Plt Kadinkes Nias Utara Digigit Anjing Gila

Ditulis pada : 6 March 2010 di Berita Utama, Kesehatan |

MEDAN (Yaahowu Nias)
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Nias Utara Kristian Zai, 40,diterbangkan ke Medan,kemarin sore, karena terjangkit rabies setelah digigit anjing gila peliharaannya sendiri.

Dia kini dalam perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik. Berdasarkan keterangan, Kristian digigit anjingnya akhir Januari lalu dan sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungsitoli. Kristian sendiri berlatar belakang seorang apoteker. Kepala Unit Penyakit Dalam yang juga Ketua Komite Medik Rumah Sakit Gunung Sitoli Dr Kaserina Dakhi yang dihubungi kemarin siang menjelaskan, selain Kristian, pihaknya sudah menangani empat kasus,tiga di antaranya meninggal.

“Salah satu pasien yang kami tangani adalah beliau (Kristian). Semua pasien yang masuk karena kasus gigitan anjing rata-rata menderita penyakit lainnya, seperti Bapak Kristian yang juga mengalami diabetes dan hipertensi,” ujarnya. Kaserina menjelaskan, pihaknya saat ini sangat kesulitan menangani korban gigitan anjing gila karena stok obat antirabies sudah habis.

“Saat ini sama sekali tidak ada stok,” timpalnya. Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Sumut) Chandra Syafei mengatakan, telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Rabies di Nias. Pihaknya telah menginstruksikan Dinas Kesehatan kabupaten/kota, termasuk Nias untuk melakukan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.

“Juga pengendalian hewan penular rabies, koordinasi lintas sektor,lintas program, kewaspadaan dini, tindakan cepat (rapid respons), pengobatan penderita sesuai protap (prosedur dan ketetapan),” jelasnya. Dia berharap korban gigitan langsung memeriksakan diri ke rumah sakit terdekat atau puskesmas. “Termasuk ke dokter praktik untuk segera melapor ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota untuk dilakukan penanggulangan cross notification untuk kasus lintas batas,” tukasnya.

Kepala Seksi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Bersumber dari Binatang (P3 B2) Dinas Kesehatan Sumut Suhardiono mengaku mengetahui penyakit yang diderita Kristian, sebab yang bersangkutan menghubunginya melalui telepon kemarin pagi. “Tapi, saat menelepon pun dia tidak mengatakan dirinya yang digigit anjing, melainkan bertanya bagaimana kalau orang yang digigit anjing mengalami demam, kebas-kebas dan lainnya,” jelasnya.

Lalu, setelah cerita panjang lebar,Kristian akhirnya mengaku bahwa dirinya yang digigit oleh anjing peliharaannya. Anjing yang berjenis pudel tersebut langsung meninggal beberapa saat seusai menggigitnya. Namun, kemarin pagi, Kristian yang mendapatkan gigitan di lengan kanan atau siku kanan mengalami gejala penyakit rabies. “Selain demam, dia juga sulit menelan.

Dia bertanya apakah perlu dilakukan pemberian vaksin rabies.Saya bilang tidak usah, sebab dia itu sudah terkena rabies dan dirawat di RS Gunungsitoli saja.Namun, katanya pihak keluarga meminta agar dilakukan perawatan dan akhirnya dirujuk ke RSUP H Adam Malik,” ungkapnya. Suhardiono menjelaskan, bahwa rabies status KLB diberikan ke Nias, karena untuk rabies satu saja korban meninggal sudah harus KLB.

Selama 2010 saja, dari 108 kasus sudah ada 4 kasus meninggal atau Lyssa (meninggal karena gigitan anjing). Dari 108 kasus tersebut, 90 di antaranya ada di Medan dengan daerah kasus gigitan terbanyak, sedangkan Gunung Sitoli dengan 13 kasus sudah ada 4 meninggal. Sedangkan 2009, ada 2.386 kasus gigitan dengan Lyssa sebanyak 22 orang.

Di mana Medan masih menjadi daerah terbanyak kasusnya dengan 486 kasus,namun tanpa ada korban jiwa dan wilayah yang memakan banyak korban jiwa adalah Samosir dengan enam orang meninggal dari 285 kasus. Kasus KLB di Nias atau Gunungsitoli ini adalah kasus terbaru. “Ini sungguh mengejutkan, sebab dibanding tahun 2009, daerah ini bersih atau bebas dari rabies.

Jadi, ada dua daerah, yakni Nias dan Nias Selatan selama tahun 2009 tidak ada kasus satu pun di wilayanya. Makanya, dalam draf data rekap kasus, dua wilayah ini kami namakan bebas rabies,” paparnya. Dia mengakui bahwa pihaknya memang mengalami kekurangan vaksin anti rabies (VAR). Apalagi saat ini, hanya 10 kuur yang digunakan hanya untuk 10 pasien atau penderita.

“Untuk Nias saja kami sudah drop 30 kuur dua minggu lalu sejak ada kasus ini,” lanjutnya. Jika setelah digigit anjing rabies,si penderita belum mendapatkan gelaja-gejala rabies dan di saat itulah dia diberikan vaksin, kemungkinan untuk sembuh masih bisa. “Di sinilah vaksin dan virus saling berkejaran di dalam tubuh.

Vaksin mencegah virus sampai pada syaraf,” ungkapnya. Sementara itu, Kepada Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sumut Mulkan mengatakan, pihaknya telah menyosialisasikan masalah rabies ini pada 2 Maret lalu kepada seluruh kepala dinas, wali kota dan pejabat lainnya di Nias.

Saat ini, kata Mulan estimasi populasi anjing di Nias berkisar pada 12.000 dari 101 desa/kelurahan. “Dan kami telah melakukan eliminasi anjing- anjing yang rawan rabies. Bagi kami ini kasus baru juga, makanya kami juga sudah mendrop 10.000 vaksin untuk anjing pada Jumat lalu,” ujarnya.

Tidak hanya itu, kata Mulkan pihaknya telah mengirimkan sampel darah lima anjing yang setelah diperiksa memang positif rabies. “Kami akui di sana kekurangan tenaga medis, mantri hewan saja hanya ada empat,” tandasnya. (nina rialita/SINDO)

Ditulis pada : Saturday, 6 March, 2010 jam : 8:20 am dalam : Berita Utama, Kesehatan . Anda dapat melihat respon komentar pada RSS 2.0 . Anda dapat meninggalkan komentar, atau kembali ke topik tulisan ini.

Tinggalkan Komentar

ke Atas »