Puluhan Tahun Nias Tak Kenal Rabies ; Kasus Rabies di Nias Jadi Perhatian Depkes
Medan, (Yaahowu Nias)
Kasus rabies Nias belakangan ini menjadi perhatian pemerintah pusat. Pasalnya, selama puluhan tahun tidak ada kasus di Nias, tapi tiga bulan belakangan kasus rabies meningkat.Bahkan, dari 15 kasus gigitan anjing di Nias, sudah memakan korban jiwa lima orang termasuk salah satunya Plt Kadis Kesehatan Nias Utara, Kristian Zai (40) yang meninggal dunia di RS Santa Elisabeth Medan, Sabtu, (6/3).
“Kasus ini menjadi perhatian pusat. Bahkan Tim Depkes sudah turun ke Nias untuk kedua kalinya. Kali ini membawa 75 cuur vaksin anti rabies (VAR). Setibanya dari Jakarta dua orang tim Depkes langsung menuju Nias dan ditemani seorang dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr Candra Syafei SpOG melalui Kasi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Bersumber Binatang (P3B2) Suhardiono SKM MKes, Senin (8/3).
Tim tersebut, katanya, selain ingin melihat langsung kasus rabies di Nias, juga akan membagi-bagikan vaksin anti rabies ke seluruh kabupaten/kota di Pulau Nias.
“Vaksin akan disharing ke seluruh kabupaten/kota di Nias. Hal ini sesuai permintaan dari pemkab masing-masing. Harapannya, agar kalau ada kasus bisa segera ditanggulangi. Sehingga kemungkinan orang terpapar rabies jadi berkurang. Kalau ada, inkubasinya berlangsung lama,” sebut Suhardiono.
Hindari Gigitan
Dia mengakui, masalah rabies ini jangan dianggap ringan. Karena, masih banyak masyarakat belum menyadari betul bahayanya rabies. Sebaiknya menghindari dari gigitan anjing, kera dan kucing yang berpotensi penularan rabies. Apalagi jika sudah ada gejala binatang tersebut mengidap virus rabies.
Kalau sudah tergigit anjing, cepat dilakukan pertolongan pertama yakni mencuci luka gigitan dengan sabun atau deterjen dengan air bersih yang mengalir selama 10-15 menit. Sehingga, virus yang ditularkan lewat gigitan bisa dikurangi sebanyak-banyaknya atau virus itu mati karena deterjen tersebut. Dengan begitu, kemungkinan terjadinya rabies pada manusia makin berkurang.
Kemudian, segera menghubungi sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan lanjutan. Bahkan, petugas kesehatan akan berkoordinasi dengan petugas peternakan untuk mengobservasi binatang yang menggigit tersebut.
“Anjing yang menggigit jangan dibunuh, apalagi dimakan. Karena anjing itu akan diobservasi untuk dilihat apakah dia kena rabies atau tidak. Menurut biasanya, anjing rabies sudah menggigit dua atau tiga hari berikutnya akan mati. Kalau mati, maka orang yang digigit sebelumnya akan diberi suntikan vaksin anti rabies. Kalau anjingnya tidak mati, orang yang digigit tak perlu di beri VAR karena tidak ada rabies,” jelasnya.
Tapi kebanyakan, jelas Suhardiono, warga masih belum mengerti betul. Sehingga kalau digigit, anjingnya dibunuh. Akibatnya tidak bisa diobservasi anjing tersebut. Dengan begitu, untuk lebih hati-hati orangnya diberi vaksin. Padahal, tidak semua gigitan diberi vaksin.
Gejala
Ditanya tentang gejala orang terkena rabies, menurutnya, walau stadium permulaan sulit diketahui, yang perlu diperhatikan adanya riwayat gigitan hewan penular rabies.
Biasanya, gejalanya didahului sakit kepala, lesu, mual, nafsu makan menurun, gugup dan nyeri tekan pada bekas luka gigitan.
Kalau stadium lanjut, kepekaan terhadap sinar, suara dan angin meninggi, air liur dan air mata keluar berlebihan, rasa takut pada air berlebihan dan kejang-kejang yang disusul dengan kelumpuhan. “Biasanya, penderita meninggal 4-6 hari setelah gejala pertama muncul,” jelasnya. (nai)
