BPPDSU dan Pakar Surfing Internasional Tinjau Objek Wisata Nias Barat di Sirombu

Ditulis pada : 18 July 2010 di Berita Utama |

Medan (SIB)
Kalanan praktisi bisnis pariwisata di daerah ini menilai objek wisata pantai di Sorumbu Kabupaten Nias Barat sebagai gugusan potensi wisata maritim di Pulau Nias, bisa dengan cepat menanjak dan berkembang sebagai objek wisata produktif yang menyaingi popularitas wisata maritime di Maldives di Samudera Hindia atau pulau Seychelle Islands di Afrika Utara.
Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sumut Arthur MD Batubara MSc bersama Kordinator Bidang Destinasi BPPD SU Tom Gultom, menyatakan terobosan atau langkah yang perlu diprioritaskan bagi Nias Barat pasca pemekaran dari Kabupaten Nias, adalah penjajakan konsep jaringan segitiga lintas wisata maritime antara Sirombu (Nias Barat) dengan gugusan pantai di daerah Simeuleu (NAD) dan Mentawai atau Pulau Siberut di Sumatera Barat.
“Dengan kondisi sekarang ini, bila mengharapkan curahan atau arus turis yang datang ke Sumut melalui Medan, sudah pasti prospek wisata di Nias ini akan lambat, sebagaimana yang terjadi selama ini. Tapi dengan terobosan membangun sistem jaringan lintas wisata segitiga antara Pulau Simeuleu–Nias (Sirombu) dan Pulau Siberut atau Mentawai di Sumbar, maka prospek wisata Nias secara keseluruhan atau Nias Barat khususnya, serta merta akan hidup dan berkembang karena merupakan imbas dan imbal balik yang saling bersentuhan profit di sesame ketiga pulau itu,” ujar Arthur Batubara kepada pers di Medan, Jumat (16/7).
Dia mengutarakan hal itu di Bandara Polonia Medan setibanya dari Pulau Nias bersama rombongan yang antara lain mengikutsertakan beberapa praktisi bisnis wisata maritime dari kalangan pakar olahraga selancar (internasional surfing) dari Australia seperti HJ Clement dan Bors Pathy. Mereka meninjau langsung objek wisata pantai Sirombu di Nias Barat sebagai tindak lanjut pertemuan (assesment workshop) dengan delegasi Pemkab Nias Barat yang dipimpin Sekda Drs Zemi Gulo SH sepekan sebelumnya.
Di wilayah yang kini menjadi daerah baru (Nias Barat) setelah mekar dari Kabupaten Nias itu, mereka meninjau langsung objek wisata maritime di sepanjang pantai Sirombu yang saat ini masih tampak sepi karena ditinggalkan mayoritas warga akibat bencana tsunami akhir (Desember) 2004 silam, rombongan BPPD SU besama tim pakar selancar itu juga meninjau beberapa kawasan perairan dan pulau yang menjadi salah satu pilihan lokasi olahraga selancar tingkat internasional sekitarnya, yaitu perairan Pulau Asu, Pulau Bawa, Pulau Tanabala dan Hinako.
Sembari mengamati dan menganalisis skala peta antara ketiga gugusan marina bertetangga itu (Pulau Simeuleu di NAD, Pulau Nias di Sumut dan Pulau Siberut di Sumbar, Arthur bersama Gultom dan pakar dari Australia itu menilai delegasi pemerintah dari ketiga daerah itu perlu segera bertemu dan berembuk menjajaki peluang kerja sama atau jalinan potensi wisata dengan objek utama perairan laut dan objek pantai sesama pulau kecil itu.
“Atifitas regular di lapangan dan skala destinasi pada peta ini juga menunjukkan adanya mobilitas yang produktif pada sektor ekonomi kelautan selama ini, misalnya angkutan atau transportasi laut dari dan ke ketiga pulau ini, bahkan sering juga armada kapal mancanegara. Kalau ini terwujud, maka potensi dan prospek dan popularitas objek wisata maritime besar seperti Maldives di Samudera Hindia, atau Pulau Seychelle Islands di Afrika Utara. Bahkan, kalau konsep jaringan segita wisata maritime itu hidup, ketiga gugusan satu jalur ini : Pulau Simeuleu, Nias (Sirombu) dan Siberut atau Mentawai akan terposisi sama-sama ‘elegant’ mengalahkan Maldives atau Seychelle,” ujar mereka sembari menambahkan pihaknya sudah beberapa kali melancong ke kedua pulau kecil itu dan bisa menggambarkan bandingan prospeknya kelak atas potensi dan spesifikasi yang ada selama ini.
Apalagi, ujar Arthur dan Gultom, potensi atau produk maritime di Nias-Sirombu dipastikan akan memiliki nilai plus karena kawasan pantai atau arena selancar di situ berada pada satu distrik yang mengandung potensi budaya bersejarah (heritage object) di sejumlah desa sekitar, baik berupa rumah-rumah adat kuno, produk hasta karya tradisional (handy craft) seni tari-tarian, produk baju tenunan, ukir-ukiran dsb.
“Sambil menunggu terobosan itu, tentu saja Pemkab baru ini harus agresif dan proaktif mengelola semua objek wisata yang ada untuk menetapkan barisan objek wisata unggulannya. Dermaga pelabuhan harus dibangun dan dioperasikan kembali sambil terus menggelar sosialisasi marathon untuk menghilangkan trauma masyarakat atas bencana gempa dan tsunami tempo hari. Lalu, masyarakatnya juga harus tetap menggalang sadar wisata, antara lain dengan segera mengakhiri aksi penangkapan ikan laut dengan cara penggunaan semacam alat peledak atau semacam penaburan zat tertentu yang nantinya bisa merusak habitat laut itu sendiri. Ingat, produk utama yang menjadi objek jualan wisata daerah atau pulau ini adalah laut dan pantainya, yang meliputi kadar airnya, habitatnya, dan citra lingkungannya,” ujar Arthur menegaskan sembari menunjukkan rekaman kamera handycam tentang beberapa foto aktifitas masyarakat setempat di seputar pantai tersebut. (M9/u)

Ditulis pada : Sunday, 18 July, 2010 jam : 3:09 pm dalam : Berita Utama . Anda dapat melihat respon komentar pada RSS 2.0 . Seluruh Komentar ditutup.

Komentar ditutup.

ke Atas »